Sunday, October 2, 2016

Ironic

Dan masih disini aku membodohi diri sendiri.
Berjanji tidak akan terbuai oleh rayuannya, namun tak sampai dua kali berpikir aku pun mengiyakan.

"Sudah bersumpah untuk memalingkan wajah, kenapa masih saja memberikan kesempatan, idiot?" Gumamku kesal dan tak bergeming sejenak di hari itu.

Baru saja sesaat lalu aku bertingkah tegar dan congkak setelah mendeklarasikan keapatisanku terhadapnya. Dan tak sampai sedetik bisikkan buayanya melilitku, aku pun tergoyah oleh kemungkinan semu. Sungguh ironi... ketika hati justru menerima untuk tersakiti.

Aku ingin rela. Aku ingin lepas. Aku ingin bebas.
Perasaan ini terlalu lama bergelut menguras tenagaku.
Untuk apa aku meluangkan segalanya jika aku saja tak bisa menerimanya secara penuh?

No comments:

Post a Comment